Cerita Elisabeth

Eli_badut Borobudur.jpeg

BERPROFESI SEBAGAI BADUT KELILING DI BOROBUDUR YANG TIDAK PERNAH KENAL LELAH

Memiliki profesi full time sebagai badut keliling di Candi Borobudur tidak membuat Ibu Eli berhenti membantu membina dan mensejahterakan pedagang sekitarnya yang impiannya ingin terwujud lewat Arisan Mapan.

Ibu Eli pertama kali mendengar soal Arisan Mapan setelah membaca postingan temannya di Facebook. Setelah membaca banyaknya testimoni positif tentang Arisan Mapan, Ibu Eli memutuskan untuk ikutan pada Agustus 2018. Beliau mulai mengajak para pedagang di sekitar Candi Borobudur untuk ikutan, namun ternyata sulit untuk meyakinkan mereka karena mereka terbiasa dengan sistem kredit di mana barang diterima diawal. Selain itu, sistem kredit juga tersedia untuk hampir semua alat-alat kebutuhan yang mereka inginkan, baik dari kebutuhan kecil hingga kebutuhan besar. Namun, Ibu Eli tidak patah semangat dan terus gigih untuk meyakinkan pedangang-pedagang tersebut.

Pada kocokan kelompok pertama pun pada saat salah satu anggota nya mendapatkan panci, Ibu Eli memutuskan untuk keliling Candi Borobudur membawa panci tersebut sambil menghampiri pedagang-pedagang yang pernah diajak untuk ikutan Arisan Mapan sebelumnya sehingga mereka dapat melihat kualitas barang yang didapatkan dari Arisan Mapan. Secara perlahan mereka pun akhirnya mengikuti Arisan Mapan. Hingga kini, Ibu Eli telah sukses merangkul 87 anggota.

Berhubung hampir semua anggota arisan Ibu Eli merupakan pedagang, Ibu Eli menerapkan “sistem tabungan” bagi anggotanya agar sistem cicilan arisan berjalan dengan lancar. Setiap harinya, Ibu Eli pergi berkeliling ke para anggotanya agar mereka dapat menyisihkan sedikit dari penghasilan mereka (Rp2000-Rp10.000/hari) supaya mereka tidak akan repot lagi memberikan uang pada waktu jatuh tempo.

 
 
Life at Mapan